Jaringan Mimpi
Emosi
memuncak dan jantung semakin keras berdetak ketika sang Ayah membentak, disaat
aku tergeletak.
“Nak, bangun nak, sholat subuh! Sudah jam berapa ini,
bangun” bentak sang ayah.
“lagi enak tidur, ayah! Kan hari ini sekolahku libur” jawab
diriku dengan nada marah.
“sekolah boleh libur, tapi sholat tidak boleh libur, nak”
ucap sang ayah.
Ayah terus membentak diriku, karena beliau sadar tanggung
jawabnya sebagai orang tua, yang nantinya bakal dipertanggung jawabkan di
akhirat. Telingaku yang sudah tidak kuat dengan teriakan ayah, sehingga diriku
mengalah, dan siap melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama keluarga.
Angin segar
yang berhembus di pagi hari, ditambah secangkir kopi, dapat dinikmati keluarga
sederhana ini, memang setiap minggu pagi, keluarga ini punya agenda untuk
kumpul dan bercengkrama. Tapi hari itu entah kenapa diriku sangat malas, dan terus
bermain hp. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting salah satu pohon
dibelakang rumah. Sang ayah lalu menuding jarinya ke arah gagak.
“Nak, apakah benda itu?” tanya sang ayah.
“Burung gagak” jawab diriku.
Namun, kemudian sang ayah mengulangi pertanyaan yang sama.
Diriku menyangka sang ayah kurang mendengar jawaban tadi, lalu diriku menjawab
dengan lebih keras, “Itu burung gagak, Ayah!”
Sang ayah mengangguk-angguk, tetapi tidak lama kemudian sang
ayah bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Diriku yang merasa sedikit
bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu diriku menjawab dengan
lebih keras lagi. “Itu burung gagak, Ayah!”
Sang ayah terdiam. Namun, tidak lama kemudian, sang ayah
kembali mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuatku hilang kesabaran dan
menjawab dengan nada tinggi dan kesal kepada sang ayah, ”Ayah! Saya tidak tahu,
ayah paham atau tidak. Tapi sudah 4 kali Ayah bertanya hal tersebut dan diriku
juga sudah memberikan jawaban. Apalagi ayah, yang mau saya katakan? Itu burung
gagak, itu burung gagak, Ayah!” jawab diriku dengan nada yang begitu marah.
Sang ayah lalu tersenyum, kemudian berdiri dari tempat
duduknya dan menuju ke dalam rumah, meninggalkan diriku yang sedikit bingung
dan marah.
Sesaat
kemudian sang ayah keluar lagi dengan sesuatu di tanganya. Dia mengulurkan
benda itu kepadaku yang masih geram dan bertanya-tanya, dan diperlihatkan
sebuah catatan lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam catatan
ini” pinta sang Ayah. Diriku setuju dan langsung baca catatan tersebut.
“Hari ini aku dihalaman rumah. Bersama anakku yang genap
berumur lima tahun, tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon mangga. Anakku
terus-menerus menunjuk ke arah burung gagak itu dan bertanya, “Ayah, apa itu?”
dan aku menjawab, “Burung gagak.”
Walau
bagaimanapun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku
menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan
demi rasa cinta dan sayangku kepadanya, aku terus menjawab untuk memenuhi rasa
ingin tahunya. Aku berharap hal ini bisa menjadi suatu pendidikan yang berharga
untuk anakku kelak.”
Paragraf
demi paragraf selesai ku baca. Diriku mengangkat muka memandang wajah sang ayah
yang kelihatan sayu. Sang ayah perlahan bersuara, “Hari ini ayah baru bertanya
kepadamu soal yang sama sebanyak 4 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta
marah.” Kata sang ayah sambil tersenyum.
Lalu diriku perlahan meneteskan air mata dan merangkul sang
ayah, memohon maaf atas apa yang telah diriku perbuat, kemudian sang ayah
bertanya kepada diriku, “apa cita-citamu, nak?”
Awan
mendung tiba-tiba datang, hingga langit meneteskan air hujan, seakan menjadi
gambaran suasana hatiku saat itu. Diriku terdiam sejenak setelah mendengar
pertanyaan seperti itu.
“Cita-cita itu bagaikan pensil, jika ingin meraihnya maka
harus berusaha dan bekerja keras seperti halnya meraut pensil agar menjadi
runcing. Namun jika tidak bersungguh-sungguh maka kesempatan itu semakin kecil,
bahkan pupus seperti pensil yang semakin hari semakin pendek bahkan ada yang
sampai hilang.” Jawab diriku dengan nada terbata-bata.
“apakah kau bisa menggapai cita-cita tersebut?” ucap sang
ayah.
“diriku merasa dihalangi oleh keegoisanku, sulit
menghilangkan egois ini, sulit untuk bisa menghargai orang lain, pikiranku
hanya ingin kesenanganku, bukan orang lain.” Jawab diriku dengan nada
terbata-bata.
“bawalah masuk keluarga ini ke dalam ruang kebahagiaan nak!”
ucap sang ayah.
“InsyaAllah yah” ucap diriku sambil memeluknya.
Sore
harinya ganti Ibuku yang bertanya masalah cita-cita, tapi ini pertanyaan
berbeda, “Seberapa tinggikah cita-cita yang kau inginkan, nak?” ucap ibuku
dengan sedikit tersenyum.
“Tentu saja setinggi langit, bu” jawab diriku, ibuku malah
tersenyum. Aku heran padahal jawaban itu betul.
“Ibu beri tahu nak!, cita-cita setinggi langit itu hanya
omong kosong, untuk orang yang punya keegoisanya sepertimu, cocoknya adalah
setinggi keegoisanmu,” ucap ibuku dengan sedikit bercanda.
Diriku dibuat bingung oleh ibuku, lalu ibuku melanjutkan
bicaranya, “keegoisan telah menenggelamkan cita-cita orang banyak, bahkan
cita-cita negeri ini, lihat orang-orang diluar sana, keegoisan semakin banyak
dan semakin tinggi” ucap ibuku sambil pergi meninggalkanku.
Setelah itu, diriku pergi ke belakang rumah, dan merenung
memikirkan ucapan dari ibuku tadi.
Memang
benar yang dikatakan Ibuku. Entah sampai kapan keegoisan ini akan meluap, dan
menggenang pada diriku, tetapi diriku akan terus mengembangkan sayap-sayapku,
untuk bisa terbang menjauhi keegoisan. Ingin kutunjukan pada dunia. Bahwa
cita-citaku, bisa melebihi tinggi keegoisanku.
Diriku
pernah berfikir, adakah seseorang yang berhati malaikat membantuku, paling
tidak untuk memupuh diri ini yang terkulai lemah. Impianku saat itu, hanya
ingin berkuliah. Kusapa langit dan kuinjak bumi dengan berjalan berlenggak
lenggok tanpa ada rasa berdosa. Berusaha keluar dari jurangnya keegoisan, mulai
diriku kerjakan. Diriku yakin usahaku akan berjalan sesuai apa yang diharapkan.
Setia kepada setiap apa yang diriku pikirkan dan kutendang pemikiran yang tak
sesuai dengan apa yang diriku yakini.
“Hidup memang terkadang melelahkan, kawan.” Ucap salah satu
teman sekolahku. Dengan nada optimis.
“Tahu apa kau tentang hidup” hentak diriku.
“Hidup akan indah jika kita berpikir bahwa hidup itu indah.
Tapi hidup akan menjadi sulit, bila kesulitan itu sudah bersarang bahkan
beranak pinak di kepalamu” Jawab temanku sambil tersenyum.
Diriku mulai bingung dan sedikit berpikir. Tiba-tiba temenku
melanjutkan perkataanya.
“Jadi begini kawan, Tuhan itu tidak sembarangan membuat
hidup ini. Jadi jangan pernah sekali-kali lagi kau menghina hidup” Ucap
temanku.
“Perasaan diriku tidak pernah menghina kehidupan. Apakah
keegoisan tadi yang buatku menghina kehidupan?” Ucap dalam pikiran. Belum
sempat diriku jawab, ia telah pergi entah kemana.
Terkadang
diriku bingung dengan sikapku, ingin sukses tapi masih ada dalam hati ini sifat
keegoisan. Diriku paham bahwasanya usaha dan doa adalah kuncinya. Berjuang
bukanlah hal mudah, tapi selagi kita punya keinginan dan tekad, kenapa tidak?
Berjuang bisa diibaratkan sebagai pohon. Pohon semakin menjulang tinggi, maka
angin juga semakin keras menerjangnya, tetapi pohon akan terus berjuang untuk
bertahan walaupun banyak rontokan-rontokan daun yang jatuh. Itulah makna
kehidupan jika kita ingin sukses, pasti akan banyak terjangan, tetap bertahan
dan terus berjuang adalah keharusan, walaupun banyak sekali kegagalan. Semua
itu ada waktunya, Tuhan lebih paham kapan, dimana, dan dengan cara apa kita
dapat mencapai kesuksesan tersebut, seperti halnya burung. Ketika burung
tersebut masih hidup ia akan terus memakan semut, tetapi jika burung tersebut
yang mati, maka semutlah yang akan memakanya. Itulah kata yang pernah terucap
dari Ayah.
Waktu terus
melaju, menyeretkan sebuah harapan dan cita-cita. Mimpi yang pernah diriku
ikrarkan kini telah sampai pada ujungnya. Mimpi untuk dapat kuliah dikampus
impian Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, sedikit demi
sedikit mulai terwujud. Keegoisan yang selalu membayangi-bayangi pada
kehidupanku kini mulai redup, semua jadi tampak misteri.
Matahari
yang masih malu menampakan keindahanya, dan sembunyi dibelakang awan.
Sepertinya menjadi gambaran diriku saat itu. Disini diriku berjalan menyusuri
jalan yang begitu padat, menunggu antrian yang begitu panjang. Dan, akhirnya
sampailah aku didepan pendaftaran ulang Mahasiswa baru Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang. Pertama kaki ini menginjak dikampus, sedikit
gemetar. Seperti sebuah mimpi. Kini kakiku mempunyai tujuan, melangkah menuju
kampus hijau yang bisa dibilang diatas bukit. Sekarang langkah kakiku begitu
ringan karena diriku dapat melihat senyuman orang tua yang memiliki impian
besar bagiku, dan mataku yang menatap tidak seperti biasanya, haru campur
bahagia. Raut wajah yang dari tadi kusam dan jelek berubah menjadi senyuman
yang lebar dan kegirangan.
Seorang
mahasiswa rela mengantarkanku ke suatu tempat yang tak asing lagi di kampus
ini, yaitu Ma’had. Karena wajib hukumnya bagi mahasiswa baru untuk tinggal di
Ma’had. Bagi diriku, itu adalah sebuah proses, bukan suatu penghalang untuk
sukses. Angin yang berkeliaran di kota malang berhasil menambah semangatku
untuk dapat mengembangkan ilmu di kampus hijau ini. Sampailah diriku di suatu
tempat yang biasa orang sebut dengan nama mabna. Diriku disambut dengan ucapan
ramah khas ala pesantren.
“Assalamualaikum” ucap diriku.
“waalaikumsalam, ada yang bisa saya bantu?” jawab salah satu
musyrif.
Mulai saat itu, diriku sedikit demi sedikit mulai kenal
dengan beberapa penghuni mabna.
Sekarang
statusku sah menjadi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang, dengan memilih jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu
Terbiyah dan Keguruan. Sebuah kebangaan bagiku sebagai anak yang pemalas dan
lebih mementingkan ego, bisa menyandang status sebagai mahasiswa.
Waktu
berjalan tanpa henti, tak terasa 3 hari telah berlalu. Kini kampus sudah mulai
aktif. Pagi-pagi hujan telah menyapa, seakan-akan sedang memberikan ucapan
selamat pagi dan selamat mengembangkan ilmu dikampus hijau ini. Entah kondisi
apa yang sedang kurasakan saat itu, diriku begitu gugup. Padahal hari itu,
diriku akan mendapatkan teman baru dan mata kuliah baru, yang tak pernah
kubayangkan sebelumnya.
“Assalamualaikum” Ucap diriku. dengan wajah kaku dan bingung
“Waalaikumsalam” Sahut seorang laki-laki yang duduk paling
depan.
“kamu jurusan Manajemen Pendidikan Islam?” ucap diriku
dengan nada kaku.
“iya, kenalkan namaku kholil, dari Blitar. Kamu siapa?”
tanyanya, dengan wajah rasa ingin tahu.
“aku mirza, dari Kediri”. Jawab diriku.
Sejak
perkenalan itu, diriku dan kholil selalu bersama. Entah itu ke masjid, ke
kantin, maupun berangkat dan pulang kuliah. Kami selalu bertukar pendapat
tentang permasalahan yang sedang jadi pembahasan.
“Sudah seperti saudara kami itu.” Ucap kami berdua, ketika
ada teman yang bertanya.
Hari berganti hari, kini diriku mulai banyak teman. Entah
ini takdir atau pilihan, diriku merasa beruntung dapat menjadi warga
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Banyak dorongan dari
berbagai elemen manusia, yang dapat menyambungkan koneksiku kepada mimpi yang
pernah diriku ikrarkan.
Bagus za...
BalasHapusLanjutkan....
Suwun level tertinggi😂
HapusMantab2
BalasHapusPangestunipun ..wkwk
HapusKeren kak👍🏻🙏🏻
BalasHapus