Melangkah Searah
Ekspedisi Pertama (awal Agustus 2017)
Judul : Gatra Pawitra
Karya : M Mirza Azizin Nauval
(Gunung
Penanggungan (1.653 mdpl via Tamiajeng)
Dunia tak pernah semena-mena dengan kita, orang baik akan
memperlakukan baik, jika kita memperlakukanya dengan baik pula, begitupun
sebaliknya. Penanggungan sebuah nama yang banyak orang bilang Gunung, tapi
menurut saya kata itu kurang pas dan perlu ditambahkan dengan kata istirahat,
maklum gunung tersebut sudah mati lama. Gunung yang berada di Jawa timur ini
memiliki puncak namanya Pawitra yang berarti kabut. Memang di puncak ini banyak
kabut putih silih berganti menyelimuti yang memiliki ketinggian 1.653 mdpl.
Meski sinar mentari sudah terasa di kulit pendaki, namun kabut seakan tidak
pernah berhenti menyelimuti.
Gunung penanggungan merupakan salah satu gunung suci, dalam kitab
negarakertagama disebut dengan pawitra. Bentuk peninggalan yang berupa struktur
bangunan bertingkat yang banyak dijumpai di wilayah gunung penanggungan adalah
punden berundak. Punden-punden tersebut dibangun tersebar di lereng barat
puncak Penanggungan, di lembah antara puncak Penanggungan dan bukit Bekel, di
bukit Bekel dan bukit Gajah Mungkur. Punden berundak tersebut umumnya
berorientasi kearah puncak Penanggungan atau puncak lainnya. Hal ini
membuktikan bahwa anggapan tentang daerah suci tidaklah terpusat pada puncak
penanggungan saja, tetapi seluruh gunung itu dan lingkungannya pun dianggap
suci hingga punden-punden berundak sembarang didirikan di berbagai tempat dan
selalu berada dilereng atau tempat-tempat yang mendekati puncak Penanggungan
atau puncak-puncak bukit lainnya.
Ditinjau dari bentuknya, bangunan berteras di situs gunung
Penanggungan tampak memiliki unsur-unsur bangunan prasejarah dari tradisi
megalitikum yang melatar belakangi pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Jika
ditinjau dari pahatan candrasengkala atau angka tahun dalam tarikh saka pada
beberapa bangunan dan juga ditinjau dari ragam hias dan relief cerita yang
terdapat pada sebagaian besar bangunan dapat dipastikan bahwa peninggalan
purbakala di situs tersebut berasal dari masa akhir kerajaan majapahit (sekitar
abad 15 M).
Salah satu bagian kitab Jawa Kuna Tantu – Panggelaran yang digubah
sekitar paruh pertama abad ke-16, menguraikan perihal mitologi gunung itu.
Dikisahkan bahwa semula Jawadwipa selalu bergoncang goncang, terombang- ambing
oleh ombak Samudra India dan Laut Jawa. Para dewa di kahyangan telah memutuskan
bahwa Tanah Jawa itu cukup baik untuk perkembangan peradaban manusia
selanjutnya, oleh karena itu harus dihentikan goncangannya. Mereka lalu
beramai-ramai memindahkan Gunung Mahameru (pusat alam semesta) yang semula
tertancap di Jambhudwipa (India) ke Jawadwipa dengan cara menggotongnya
bersama-sama, terbang di angkasa.
Selama perjalanan, bagian-bagian lereng Gunung Mahameru berguguran,
maka terciptalah rangkaian gunung-gunung dari Jawa bagian barat hingga Jawa
Timur. Tubuh Mahameru yang berat jatuh berdebum menjadi Gunung Sumeru atau
Semeru sekarang, gunung tertinggi di tanah Jawa. Sedangkan puncaknya
dihempaskan oleh para dewa jatuh di daerah selatan Mojokerto, menjelma menjadi
Gunung Penanggungan sekarang, atau gunung berkabut Pawitra yang sebenarnya
bagian puncak Mahameru. Tak mengherankan kiranya apabila Gunung Pawitra telah
dimuliakan sejak waktu yang lama. Berdasarkan bukti-bukti sejarah dan
peninggalan arkeologi yang ditemukan di lerengnya, diketahui Penanggungan
disakralkan sejak abad 10 M. Inkripsi tertua yang ditemukan adalah prasasti
suci yang bertanggal 18 September 929 M.
Prasasti itu dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Pu Sindok yang
memerintahkan agar Desa Cunggrang dijadikan daerah bebas pajak (sima),
penghasilan desa itu dipersembahkan bagi pemeliharaan bangunan suci Sanghyang
Dharmasrama ing Pawitra dan Sanghyang Prasada Silunglung. Berdasarkan berita
prasasti tersebut dapat ditafsirkan, pada masa itu telah terdapat bangunan suci
(prasada) dan asrama bagi para pertapa di Pawitra.
Pemandian kuna (patirthan) Jalatunda yang terdapat di lereng
baratnya. Pemandian itu dibangun pada tahun 899 – 977 M dan masih mengalirkan
air hingga sekarang. Airnya dianggap amerta (air keabadian) karena ke luar
langsung dari tubuh Mahameru, gunung pusat alam yang di puncaknya terdapat
swarloka, persemayaman dewa – dewa. Diduga, dahulu pernah bertahta arca Wisnu
sebagai dewa kesejahteraan manusia di bagian tengah pemandian, sekarang telah
raib entah ke mana.
Air Jalatunda juga dipercaya oleh penduduk sekitar Mojokerto,
Surabaya, Malang, Pasuruan sebagai air bertuah. Seseorang yang minum dan mandi
di pancuran airnya (jaladwara) dapat menenteramkan pikirannya yang kacau, dan
juga dipercaya dapat membuat awet muda. Ketika Airlangga muda mengungsi dari
Kerajaan Dharmawangsa Teguh yang hancur akibat serangan dahsyat Wurawuri (1016
M), ia lalu menyingkir ke Wanagiri, diiringi sahabat setianya Hayam Wuruk (1350
-1389 M), raja Majapahit yang suka jalan-jalan itu pun pernah mampir di lereng
timur Pawitra untuk menikmati keindahan. Disebutkan dalam Kakawin Nagarakartagama
pupuh 58:1, sang raja singgah di Cunggrang, asrama para pertapa yang terletak
di tepi jurang yang curam. Dari tempat itu pemandangan ke arah Pawitra sangat
menawan.
Peninggalan sejumlah besar monumen dan artefak dari masa silam
(abad 10 – 16 M) di lereng Penanggungan itu dilaporkan oleh arkeolog Belanda Wf.
Stutterhem (1925). Eksplorasi awal itu hanya mengungkapkan kekayaan peninggalan
kuna di kawasan tersebut. Vr. Van Romondt, insinyur yang arkeolog, mengadakan
penelisikan secara menyeluruh di situs Gunung Penanggungan. Hasilnya sungguh
menakjubkan! di Penanggungan ditemukan tidak kurang dari 80 kepurbakalaan.
Terdapat sekitar 50 monumen berupa punden berundak-undak dengan tiga altar
persajian di teras teratasnya. Dinding punden-punden berundak adayang dihias
dengan relief centa Sudhamala (kisah ruwat Dewi Durga), Arjunawiwaha
(perkawinan Arjuna dengan Bidadari), Panji (kisah roman antara putra mahkota
Janggala dan putri Kediri), Ramayana, dan kisah-kisah hewan.
Kepurbakalaan lainnya berupa gua-gua pertapaan, deretan anak tangga
batu mendaki bukit, area-area, gentong-gentong batu, altar persajian tunggal,
batu dihias relief, prasasti, ribuan pecahan gerabah dari berbagai bentuk. Berdasarkan
tafsiran dari berbagai bentuk data yang tersedia, baik berupa monumen,
area-area, prasasti, uraian kitab kuna Arjunawiwaha, Nagarakartagama,
Arjunawijaya, Tantu Panggelaran, dan lainnya lagi, dapat diketahui dalam era
Hindu-Buddha di Jawa, Gunung Pawitra merupakan pusat kegiatan kaum resi atau
karsyan.
Para resi adalah mereka yang mengundurkan diri dari dunia ramai,
memilih hidup menyepi di keheningan alam pegunungan dan kehijauan hutan yang
masih asri. Gunung Pawitra dijadikan pusat aktivitas keagamaan kaum resi, tentu
berdasarkan pemikiran bahwa Pawitra tidak lain dari puncak Mahameru itu
sendiri. Apabila para resi dan kaum pertapa itu bermukim di lerengnya, berarti
lebih mendekati rahmat dewa, lebih mudah berkomunikasi dengan dunia Swarloka,
tempat Girinatha (Siwa) dan dewa-dewa lainnya bersemayam.[1]
Perjalanan dimulai, dengan berbagai pertimbangan dari teman-teman
waktu di Pondok Pesantren Al Amien kota Kediri, iya memang ini merupakan
pendakian pertama saya yang merupakan masih kelas 11 di Madrasah Aliyah Negeri
1 kota Kediri. Untuk memutuskan saya mendaki atau tidak pastinya memerlukan
beberapa masukan. Karena kecintaan saya dengan sejarah-sejarah jawa, mengapa
tidak untuk melihat secara langsung berbagai sejarah yang terdapat di Gunung Penanggungan.
Setelah teman saya cerita cukup panjang tentang sejarah gunung tersebut, saya
tanpa pikir panjang dan meng-iyakan pendakian ini dan katanya gunung ini cocok
buat pendaki pemula seperti saya.
Pendakian ini dimulai pada awal bulan agustus 2017, sekitar 8 orang
dan semuanya itu merupakan santri termasuk saya. Itu yang membuatku kagum
ternyata santri itu bukan hanya tentang Religius melainkan juga tentang sosial
alam. Sempat saya berpikir bahwasanya santri itu nanti hanya tentang keagamaan,
ternyata tidak. Hanya orang-orang yang belum mengenal dan punya pikiran sempit
saja yang berpikiran kalo santri hanya bisa mengaji, padahal tidak, banyak
tokoh-tokoh Negeri ini yang dulunya santri dan ketika punya jabatan di Negeri
ini, beliau-beliau juga tetap mengaku santri tanpa memandang jabatan, salah
satunya adalah Presiden Indonesia ke-4 yaitu Dr. KH. Abdurrahman Wahid. Sudah
tak perlu dijelaskan lagi tentang karya-karya beliau yang begitu fenomenal di
Negeri ini terutama bagi santri. Kita berpikir, bahwasanya alam merupakan salah
satu aspek yang perlu dikaji dengan nilai-nilai Islam dan juga dengan alam kita
juga dapat Tadabbur[2]
serta tafakur[3]
tentang ciptaan Tuhan yang maha kreatif dengan keagungan-Nya. Perlu diketahui,
saya dan teman saya yang bernama Qomar merupakan santri Pondok Pesantren Al
Amien sedangkan 6 orang lainya merupakan mahasiswa yang sudah mengabdikan diri
di Pondok tersebut (bisa dibilang pengurus pondok, tapi tempat pengabdianya
bukan di pondok melainakan di Musholla, sekitar 1 km dari pondok).
Dari pagi sudah bersiap-siap, saya yang dari subuh sudah repot dan
bingung barang apa aja yang akan dibawa serta cara kabur dari pondok agar tidak
ketahuan pengurus, maklum ini pendakian pertama saya serta saya yang notabene
merupakan santri dan saya tidak izin ke pengurus, karena kalo izin pasti akan
dilarang (padahal para pengurus juga gitu, sering keluar seenaknya (canda
pengurus hehehe)) walaupun santri tetap saja ndablek[4],
kan santri juga manusia yang juga punya salah hehehe. Saya yang diajak oleh
adik (keponakan-tapi sudah dewasa dari pada saya) bernama wildan yang merupakan
mahasiswa di STAIN Kediri (sekarang IAIN Kediri) hanya diberi saran “gowo ae
barang seng perlu digowo, ojo lali gowo jaket sng kandel mergo ning kono howone
adem, alat-alat ndaki sing liyane wis digowo cah-cah” (bawa aja barang yang
perlu dibawa, jangan lupa bawa jaket yang tebal karena disana hawanya dingin,
alat-alat pendakian yang lain sudah dibawa teman-teman).
Ketika semua sudah siap dan berkumpul di Musholla, apesnya motornya
kurang satu, dan itu harusnya saya yang bawa. Merasa malu dan bersalah itu
pasti dan tanpa pikir panjang, wildan langsung memberi saran untuk pinjam
motornya paman (rumahnya sekitar 9 km dari musholla) akhirnya setelah
dihubungi, ternyata bisa tapi motor Astrea Grand. Setelah berpikir lagi, jika
kita naik itu, bisa dibayangkan pasti tidak kuat motor tua tersebut jika diajak
melewati pegunungan tapi saya merespon dengan kata iya, maksudnya iya memakai
motor itu saja, karena perjalanan melewati depan rumah saya yang di pare,
ketika sampai rumah akan ganti motor dengan motor yang lebih muda dan semua
teman setuju. Oke kita berangkat sekitar pukul 11.00 wib.
Ada yang lucu dalam perjalanan, kita membawa alat yang begitu aneh dalam
dunia pendakian yaitu tenda Pleton[5]. Boleh
aja bawa tenda itu, kan itu tenda outdoor tapi tenda itu begitu besar seperti
tenda pengungsian padahal Cuma diisi 8 orang serta pastinya akan memakan ruang
lebih bagi pendaki lain yang ingin memasang tenda di sekitar kita dan juga
ketika perjalanan semua motor membawa tongkat dan mengibarkan bendera
Indonesia. Saya tanya ke keponakanku wildan, “nyapo ndak dilempit ae
benderone iki? Terus dilebokne nek tas” (kenapa tidak dilipat saja bendera
ini? Dan dimasukan ke dalam tas) katanya dengan jawaban simpel dan singkat “kan
iki wulan agustus, mending dikibarkan ae benderane” (ini bulan agustus,
lebih baik dikibarkan saja benderanya.) dalam hati saya, yaa Allah sungguh ini
akan ada cerita luar biasa kedepanya. Secara tidak langsung itu merupakan salah
satu bukti bahwa santri juga cinta NKRI. Perlu diketahui bahwasanya Negeri Indonesia
dapat merdeka juga karena peran santri yang luar biasa bahkan menurut sejarah
ada yang namanya Revolusi Jihad[6]
Tak terasa sudah pukul 14.00 wib, kami berhenti di Masjid untuk
melaksanakan sholat dhuhur berjamaah yang diimami langsung oleh wildan, karena
menurut teman-teman wildan inilah yang punya nilai keagamaan lebih dan punya
wawasan luas tentang agama. Saat kami akan sholat, kami bingung arah kiblat
karena masjid tersebut masih dalam tahap pembangunan, sehingga kita ikuti saja
arah kompas yang ada di Handphone dan yang terpenting niat dan yakin tentang
arah kiblat tersebut. Teman kami yang dari tadi diam dan hanya bicara
seperlunya, tiba-tiba berbicara, bahwasanya menurut
Imam Abu Ishak (juz I, hal. 129-130), ada dua kondisi terkait menghadap kiblat
yang nanti akan memberikan konsekuensi hukum yang berbeda, yakni:
فإن كان بحضرة البيت لزمه التوجه إلى عينه... وإن لم يكن بحضرة البيت
نظرت فإن عرف القبلة صلى إليها وإن أخبره من يقبل خبره عن علم قبل قوله ولا يجتهد
…وإن رأى محاريب المسلمين في موضع صلى إليها ولا يجتهد لأن ذلك بمنزلة الخبر وإن
لم يكن شيء من ذلك نظرت فإن كان ممن يعرف الدلائل فإن كان غائباً عن مكة اجتهد في
طلب القبلة لأن له طريقاً إلى معرفتها بالشمس والقمر والجبال والرياح … فكان له أن
يجتهد كالعالم في الحادثة
“Apabila ia berada di dalam bait (Masjidil Haram), maka wajib
baginya menghadap ‘ain kiblat… Apabila ia tidak berada didalamnya, maka dilihat
dulu, jika ia tahu arah kiblat, maka sholat menghadap arah tersebut, jika ada
seorang terpercaya yang mengabarinya, maka terima kabar tersebut dan tidak
perlu berijtihad lagi…jika ia melihat sekumpulan muslimin di suatu tempat
shalat menghadap ke sebuah arah, maka ia tidak perlu ijtihad, karena hal itu
sama saja seperti sebuah kabar. Jika tidak ada sesuatu pun, maka dilihat dulu,
jika ia adalah seseorang yang bisa menangkap pertanda, sedangkan kondisinya
jauh dari Makkah, ia mesti berijtihad mencari arah kiblat menggunakan metode
bisa dari melihat matahari, bulan, bintang, atau arah angin bertiup…maka wajib
baginya berijtihad sebagaimana orang alim berijtihad menyikapi persoalan fiqih
terbaru.”
Setelah sholat dhuhur selesai, sekitar 14.30 wib kami melanjutkan
perjalanan, berjalan dengan normal tak terasa sudah memasuki kawasan pegunungan
yang bisa dibilang luar biasa indahnya dalam hati berpikir se-kreatif ini Allah
menciptakan alam yang pasti dengan beberapa tujuan dan makna untuk kehidupan
makhluknya. Di tengah perjalanan kita melewati jembatan yang sedang diperbaiki
oleh beberapa warga, kami harus antri untuk melewati jembatan itu karena hanya
satu jalur saja yang berfungsi, menunggu beberapa menit, akhirnya kami bisa
lewat. Ketika kami lewat ada hal yang entah itu lucu atau motivasi yang tak
akan saya lupakan, bendera yang masih dan terus tersenyum dengan kibaranya
membuat para warga yang sedang gotong royong berhenti sejenak, ada salah satu
warga yang berteriak “Hormaaaat graakk ..!” entah kenapa saya kaget dengan
teriakan tersebut dan saya lihat sekitar, semua warga langsung hormat pada sang
sangka merah putih dan seakan-akan angin menjawab dengan memberikan hembusan
yang lebih kencang yang mengakibatkan kibaran bendera semakin kencang. Sungguh
luar biasa Ini merupakan bukti kecintaan mereka pada Negeri yang penuh mulia
ini dengan tanpa memandang ras, agama, bahkan suku.
Pemandangan bukit-bukit yang ditumbuhi berbagai macam tanaman
menambah eksotis ciptaan Tuhan yang fantastis. Memandang kanan jalan puncak
penanggungan seakan-akan mengucapkan selamat datang dan mengundang kami untuk
hadir di puncaknya, ternyata ucapan itu beneran ada di depan kami. Sang petugas
memberikan kalimat selamat datang dan saling sapa satu sama lain dengan
senyuman khas warga dataran tinggi. Kami parkir kendaraan untuk istirahat dan
sholat ashar berjamaah, mungkin itu ritual kami sebelum pendakian dimulai
bahkan itu kewajiban bukan sebuah ritual lagi. Pukul 16.00 wib kami menuju
tempat regristasi dan bertanya-tanya mengenai gunung ini. Di tengah pertanyaan,
sang petugas memotong obrolan kami dan menanyakan “diantara kalian semua apakah
ada yang pernah mendaki gunung ini?” saya yang masih pemula dan belum terlalu
faham tentang dunia pendakian hanya bisa diam serta mengikuti arahan yang
diberikan. Ternyata salah satu dari kami ada yang pernah mendaki ke gunung ini.
Alhamdulillah tiba-tiba terucap dari mulut saya yang diiringi teman-teman yang
lain. 15 menit berlalu kami habiskan untuk mendengarkan arahan serta tanya
jawab antara kami dengan petugas. Berdoa bersama dengan harapan kembali turun
pulang dengan selamat dan sesuai rencana pun dimulai yang dipimpin oleh wildan.
Pendakian pun dimulai, ucap Bismillah dalam hati.
Gunung ini memiliki 5 jalur pendakian dengan tantangan yang
berbeda-beda. Bagi pendaki yang suka dengan sejarah jalur jalatunda bisa
dipilih. Pendaki akan diajak melewati situs arkeologi bersejarah berupa candi-candi,
begitu juga dengan jalur kadungudi serta jalur wonosunyo. Jika pendaki suka
tantangan lebih ekstrim bisa memilih jalur Ngoro, jalur yang dimulai dari dusun
genting ini memang terjal dan pastikan kondisi fisik aman dan siap untuk
melewati. Sedangkan jalur satunya adalah jalur yang kami lewati dan paling
populer dilewati para pendaki yaitu jalur tamiajeng yang disuguhi pemandangan
alam yang tak kalah dengan jalur lain.
Kami berjalan dengan santai penuh dengan canda tawa karena tujuan
utama kami adalah puncak bayangan dan akan summit[7]menuju
puncak pawitra dini hari. Tak terasa kami sudah sampai di pos 1 yang merupakan
pos pemberhentian pertama di jalur tamiajeng. Tracknya cukup landai selama pos
regristasi menuju pos 1 yang ditempuh sekitar 20 menit, istirahat sebentar kami
lanjut menuju pos 2. Selama perjalanan ke pos 2 jalan masih cukup landai, kami
tempuh sekitar 20 menit. Tak terasa cahaya langit mulai padam. Setelah
istirahat di pos 2 kami melanjutkan perjalanan dengan cahaya senter dan headlamp
yang kami bawa. Perjalanan dengan melewati hutan dengan penuh kegelapan ini
merupakan pengalaman pertama saya, ada sedikit rasa takut gimana jika nanti
terpeleset dan terjatuh atau ada hewan buas lewat, dll. Pikiran-pikiran buruk
terus membayangi tapi disisi lain ada teman-teman yang selalu ada dan
menyemangati. Ayo mir, kamu bisa. Banyak ucapan-ucapan motivasi dari
teman-teman. Itu yang menjadi obat pikiran buruk saya saat itu. Memang
pendakian mengajarkan tentang semua hal. Sampai saat ini saya punya pikiran
bahwasanya gunung merupakan cita-cita. Bahwasanya cita-cita itu tidak akan
kemana-mana seperti halnya gunung tidak akan kemana-mana, kita yang terus
berusaha dan berdoa menggapai cita-cita itu. Perjalanan menuju pos 3 memang
sedikit terjal dan naik. Kami seringkali beristirahat, maklum masih pendaki
pemula. Sekitar 30 menit lebih perjalanan kami sampai di pos 3 dan istirahat untuk
kembali mengatur stamina dan nafas yang dari menanyakan mana air mana air.
10 menit istirahat, kami lanjut menuju pos 4, kata orang pos 3
menuju pos 4 ini jalanan menanjak, terjal serta licin jika hujan. Tenyata
benar, jalanan memang menanjak dan terjal, saya hanya bisa berusaha dan terus
berdoa. Dalam hati “nyapo aku wingi melu ndaki, ngerti ngene enak nek pondok
ae, turu” (kenapa aku kemarin ikut mendaki, kalo tahu gini enak dipondok
aja, tidur). Sekitar 30 menit lebih kami sampai di pos 4. Alhamdulillah ucap
saya yang diringi teman-teman yang lain. Kembali istirahat sebelum menuju
puncak bayangan. 10 menit berlalu, kami lanjut ke pos bayangan, ini merupakan
pos terakhir sebelum ke puncak pawitra. Pos bayangan merupakan savana yang bisa
dibilang luas, biasanya para pendaki yang melakukan pendakian 2 hari menginap
disini karena tempatnya yang sedikit datar serta cocok buat mendirikan tenda.
Tanpa pikir panjang kami mendirikan tenda dan benar saja tenda kami tenda besar
yang biasanya buat pengungsian, tanpa hiraukan sekitar kami terus mendirikan
tenda. Pasti pendaki lain ghibah[8]
ke kita, kami hiraukan aja. Kami masak dan buat kopi hangat sebagai asupan
nutrisi malam sebelum dinihari melakukan summit ke puncak pawitra. Hari yang
udah malam sekitar pukul 21.30 wib kami tidur, bisa tidak bisa harus bisa tidur
untuk menyiapkan stamina summit. Ditengah lelapnya tidur tiba-tiba hujan deras
membasahi kami, tenda kami yang bawahnya bolong[9]
karena alas kami tidak menyatu dengan tenda membuat air hujan mengalir dan
masuk ke tenda, pada saat itu cuaca sangat dingin, beneran ini situsi yang tidak
saya inginkan dan dalam hati sudah ini pendakian pertama dan terakhir. Hujan
yang terus mengguyur dengan sangat deras membuat kami basah karena kami membawa
alat seadanya tanpa persiapan lebih, tak lama kemudian tubuh ini menggigil,
saya berusaha mencari kehangatan agar bisa bertahan. Sekitar 20 menit lebih
hujan sudah mulai reda, Alhamdulillah. Kami sudah tidak bisa tidur dengan
situasi dan kondisi basah dan dingin melihat jam ternyata masih sekitar pukul
02.30 wib. Saya putuskan tidak tidur dan mencari kehangatan didalam tenda
sambil menunggu pukul 04.00 wib untuk melakukan summit. Waktu yang ditunggu
telah tiba kami siap-siap melakukan summit menuju puncak abadi pawitra gunung
penanggungan. Persiapan telah selesai, doa dimulai. Dengan harapan bisa selamat
sampai tujuan dan kembali seperti semula, Amin.
Perjalanan dimulai jalur yang terus menanjak. Jalur menuju puncak
sangat jelas. Didominasi dengan batuan dan tanah. Ada beberapa jalur bercabang.
Jalur utama berupa batuan dan jalur cabangnya berupa tanah dan tumbuhan
mendampingi jalur utama. Walaupun dibilang sebagai tiruan Gunung Semeru tapi
puncaknya tidak setandus Gunung Semeru. Kerikil kecil-kecil yang menguji mental
di Gunung Semeru pun juga tidak kita temui di gunung ini, jadi jangan terlalu
khawatir. Tidak perlu pakai Gaiter dan pendakian memakai sandal masih
memungkinkan. Asalkan tetap konsentrasi dan waspada dengan pijakannya. Jangan
sampai menginjak batuan rapuh dan malah menggelinding turun. Bisa membahayakan
pendaki di bawah. Sebelum sampai di puncak, terdapat kumpulan batu besar yang
biasanya dipakai untuk foto-foto oleh para pendaki. Ada pula gua kecil disitu
yang bisa dipakai untuk berteduh dari hujan ataupun angin kencang. Puncak
Pawitra memiliki semacam kawah mati berupa tanah luas yang bisa ditempati
banyak tenda, baik di tengah kawah, bibir kawah, maupun lereng kawah. Dan
ternyata di lereng kawah tersebut terdapat semacam Pura, digunakan sebagai
tempat pemujaan atau tempat berdoa. Di bagian lereng seberang juga terlihat ada
goa dan reruntuhan bangunan semacam candi. Sunrise bisa saya temui di puncak
dengan harus bersabar karena sering tertutup oleh kabut, tapi pemandangan indah
tetap jadi jaminan ketika sampai di atas sana. Kami sampai puncak sekitar 05.00
wib dengan cuaca dipuncak bisa dibilang bersahabat dengan kami, tidak terlalu
ekstrem. Dipuncak kami mendokumentasikan melalui berbagai lensa baik itu lensa
mata maupun lensa kamera. Sekitar 06.00 wib kami turun menuju pos bayangan
tempat tenda kami didirikan untuk istirahat dan makan.
Sekitar pukul 09.00 wib kami turun. Ditengah perjalanan turun kami
sempat berbincang dengan petugas dan ditanya “mas, kemarin malam dipuncak
bayangan banyak orang kah?” tanya beliau dengan agak tegang. “iya lumayan
banyak mas” jawab salah satu dari kami. “kemarin malam itu ada badai mas diatas
dengan suhu 3 derajat, maka dari itu kemarin saya ditugasi untuk mengecek
situasi para pendaki di atas, ketika sampai di pos 3 cuaca hujan sangat lebat
sehingga saya pun tidak bisa melanjutkan pendakian dan istirahat bersama para
pendaki lain di pos 3 mas, tapi diatas aman kan mas?” terang beliau dengan nada
penuh campur aduk. “oh gitu nggeh mas, saya kira diatas kemarin aman mas,
memang hujan sangat lebat, kami juga kedinginan kemarin tapi alhamdulillah
masih diberikan keselamatan oleh Tuhan” terang salah satu dari kami. Di pikiran
saya begini iya namanya mendaki penuh dengan tantangan penuh dengan usaha tapi
alhamdulillah dengan pendakian ini setelah sampai puncak saya menjadi ingin
melakukan pendakian-pendakian di gunung lain. Semua dapat ditemukan disini
didunia pendakian akan bertemu dengan orang yang benar-benar punya perhatian
dengan kita bertemu dengan orang-orang yang baik, dll selagi kita juga
melakukan hal yang setimpal denganya. Pendaki tidak memandang itu siapa, anak
siapa, agamanya apa, semua dianggapa sama. Semua ada pribadinya masing-masing,
semua ada prinsipnya masing-masing, semua ada dasarnya masing-masing, dan
masing-masing itu disatukan dengan saling mendukung satu sama lain.
Salam Produk Lokal
Mierza Nauval
Kediri, 16 Mei 2021
M Mirza Azizin Nauval
[2]
Mengahayati
[3]
Perenungan
[4] Bandel
atau Nakal
[5] Tenda Outdoor
yang biasanya buat perkemahan Pramuka
[6] Seruan
yang dikeluarkan oleh NU yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia
dan umat Islam Indonesia (khususnya santri) untuk berjuang membela Tanah Air
dari penguasaan kembali pihak Belanda dan pihak asing lainnya beberapa waktu
setelah proklamasi kemerdekaan.
[7] Perjalanan
menuju Puncak
[8] Membicarakan
orang lain
[9]
Berlubang

Komentar
Posting Komentar